21 November 2007

Sisingaan

Ada yang berbeda ketika saya menyaksikan Kesenian Tradisional asal kota Subang yaitu Sisingaan ketika saya pulang ke kota kelahiran saya. Ya..., saya adalah seseorang yang dilahirkan di sebuah Desa / Kecamatan bernama Kalijati Kab. Subang Propinsi Jawa Barat. Bagi anda yang bergelut dengan Sejarah Nasional Indonesia seharusnya pasti tahu mengenai Kalijati. Karena di kota kecil inilah penjajah Belanda menyerah kepada Jepang.

Saya biasanya melakukan PulKamp 2 minggu sekali karena jarak tempuh kendaraan umum dari Jakarta ke Kalijati hanya memakan waktu 3 jam saja atau kalau mengacu pada kilometer kurang lebih 200 Km. Ada beberapa teman-teman yang terheran-heran kenapa ko bisa cepet sih, cuma 3 jam, padahal jarak tempuhnya 200 Km lebih. Itu disebabkan karena rute kesana sebagian besar melewati jalan tol, selebihnya kurang lebih 40 Km adalah jalan biasa. Mungkin kalau tidak disertai macet dan menggunakan kendaraan mobil pribadi bisa kurang dari 3 jam bahkan mungkin bisa mencapai 2 Jam.

Kembali pada Sisingaan, Sisingaan sendiri adalah merupakan kesenian tradisional asal Subang yang mengusung sebuah replika / patung berbentuk Singa yang biasanya ditunggangi oleh anak kecil dan digotong / diusung oleh 4 orang. Konon katanya menurut sejarah, sisingaan ini merupakan bentuk perlawanan rakyat Subang kepada kaum penjajah dengan membuat patung singa yang menyimbolkan kaum penjajah. Sisingaan tersebut ditunggangi oleh seorang anak kecil berpakaian Gatot Kaca yang menyimbolkan kepahlawanan dan pembela kaum tertindas. Dengan ditungganginya sisingaan tersebut oleh Gatot Kaca dapat diartikan sebagai perlawanan dan penaklukan terhadap kaum penjajah. Sisingaan sendiri hingga saat ini biasa digelar bilamana ada keluarga yang akan mengadakan hajatan sunatan anaknya. Sisingan ini akan diarak keliling kampung sebagai media pemberitahuan akan adanya keluarga yang menggelar hajat sunatan. Nah…, ketika Pulkam, saya berkesempatan kembali menyaksikan Sisingaan tersebut yang lewat depan rumah. Ada yang beda seperti yang sudah saya bilang diatas tadi. Sudah terjadi beberapa pergeseran dalam Sisingaan ini. Yang jelas terlihat adalah iringan musik yg menyertai Sisingaan ketika melakukan arak-arakan. Dulu ketika masih saya kecil iringan musik dari Sisingaan adalah musik jaipongan, entah kenapa yang sekarang digunakan adalah musik Dangdut dan atau musik Tarling.
Sungguh sangat disayangkan. Ini mungkin karena yang mengikuti arak-arakan kebanyakan adalah anak muda sambil berjoget ria sepanjang arak-arakan. Umumnya orang-orang sekarang apalagi anak muda, dalam hal musik selalu mengikuti perkembangan jaman. Begitu pula yang terjadi pada Sisingaan yang kebanyakan diikuti oleh anak-anak muda yang haus joget, musik Dangdut atau Tarling dinilai cocok. Sementara nilai-nilai seni musik jaipongan dirasa sudah tidak masuk lagi dEngan perkembangan jaman. Sekali lagi sungguh sangat disayangkan. Sudah seharusnyalah kita memelihara kesenian tradisional sebagai nilai budaya yang harus dilestarikan sebagai wujud citra diri dan bangsa.


0 komentar:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More