19 November 2007

Macet di Djakarta

Huuhhh……, Macet lagiiiii macet lagiiiii…, stressss dech…, Pagi ini saya melakukan perjalanan pergi kerja dari Bekasi ke Grogol, maceeeetttttnyaaa minta ampuuuun. Kendaraan susah banget bergeraknya…, sampai-sampai telat banget masuk kerja… :( Perkara kemacetan lalu lintas sepertinya sudah menjadi makanan pokok sehari-hari masyarakat Jabodetabek, tetapi mungkin juga di kota besar lainnya seperti Bandung, Surabaya dan lainnya, hanya saja mungkin tidak atau kurang terekspos oleh media.

Berbicara tentang kemacetan lalu lintas di Jakarta, rasanya saya bosan dan cape membicarakannya ataupun sekedar mendengarkannya. Banyak sekali yang mengeluh dan kadang sedikit mencaci disebabkan kemacetan lalu lintas ini terutama jam-jam rutinitas kerja. Sebenarnya apa atau siapa sih yang salah atas problematika yang satu ini? Yang terjadi dan yang saya lihat kemudian adalah saling menyalahkan satu sama lain. Ada yang menyalahkan kendaraan sepeda motor, ada yang menyalahkan pembangunan jalur busway ataupun yang lainnya.

Tapi menurut pandangan saya, kemacetan lalu lintas ini terutama jam-jam rutininitas kerja cenderung lebih banyak disebabkan oleh kendaraan pribadi roda empat, dan kurang tepat menyalahkan pengendara sepeda motor yang jumlahnya susah untuk dihitung.., walaupun sebenarnya pengendara ini memberikan andil pula atas masalah ini. Lihat saja jalan tol yang seharusnya bebas hambatan dan tidak dilalui kendaraan sepeda motor tetap saja maceeeeetttt. Setidaknya itu yang saya rasakan dalam perjalanan Bekasi - Grogol. Malahan ketika ada rencana kenaikan tarif tol, para pengendara ini ramai-ramai protes dan meminta haknya terlebih dahulu untuk meningkatkan kualitas layanan atas jalan tol, " setiap hari macet..., ko minta naik, saya sih berharap.., tingkatkan dulu lah kualitas layanannya.." ujar salah satu pengendara roda empat ketika diwawancara oleh salah satu stasiun tv mengenai rencana kenaikan tarif tol. Saya langsung bingung ( maklum orang bodoh ), mau diapakan lagi jalan tolnya supaya tidak macet, mau dilebarin..? Mungkinkah? Kalau ruas Pondok Gede Timur - Cikampek sih mungkin saja, tapi lihat ruas Cawang - Grogol, kanan kiri jalan umum dan gedung-gedung, apa mungkin menggusur gedung-gedung sepanjang jalan tersebut? Atau lihat pula jalan Sudirman - Thamrin, sampingnya adalah gedung-gedung bertingkat, apa masih mungkin menggusur gedung - gedung tersebut? Jadi wajar penilaian saya terhadap pengendara roda empat ini. Kerena banyak sekali saya melihat ketika saya diperjalanan ( saya pengguna angkutan umum bis ), masing-masing orang membawa mobil pribadinya untuk beraktifitas / pergi ke kantor dan setelah saya lihat ke dalam mobilnya banyak yang hanya sendiri, seolah-olah saling berlomba membawa mobil. Sehingga saking banyaknya, jalan sudah mulai tak sanggup menampungnya. Kadang terlintas di pikiran saya, katanya negara kita ini termasuk negara miskin, tetapi ko banyak orang yang mampu untuk mempunyai mobil.

Mungkin satu-satunya cara atas masalah ini adalah menyadarkan para pengguna mobil pribadi untuk menggunakan angkutan umum untuk pergi / pulang kerja dan menghilangkan keegoannya bahwa saya punya mobil dan ingin menunjukan kemapanan finansialnya. Itu sih hal yang wajar dan sah-sah saja. Tapi saya yakin, kebanyakan pengendara mobil ini menggunakan mobilnya untuk pergi dan pulang kerja saja selebihnya diparkir di parkiran kantor dan tidak digunakan untuk aktifitas kerja lainnya. Disisi lain, untuk menggunakan angkutan umum ternyata kualitasnya masih jauh dari harapan, seperti faktor kenyamanan ataupun keamanan. Dan ini tentu menjadi PR bersama terutama buat Pemerintah.
Dedicated to : opini@kompas.com / opini@kompas.co.id

0 komentar:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More